Bukan lagi menjadi fenomena, jika sekarang anak-anak tingkat sekolah dasar sudah bisa menyanyikan lagu-lagu yang berbau cinta dan pacaran. Bukan hal yang aneh pula jika sekarang banyak musisi membuat album dengan tema ini. Justru menjadi aneh ketika seorang musisi atau grup band membuat lagu atau album dengan tema yang selain itu.
Yah, tidak bisa kita pungkiri. Beginilah yang sedang terjadi di negeri ini. Musisi seperti tidak bisa berkreasi lagi, selain membuat lagu yang bertema seperti itu. Bisa jadi mereka ketakutan tidak mendapat penghasilan ketika harus membuat lagu yang keluar dari tema tersebut.
Pacaran, Selingkuh, Putus. Lalu Jatuh Cinta lagi, Pacaran lagi, dan Putus lagi..
Muter aja di situ tema lagu-lagu yang sekarang mendominasi radio, tv, internet, bahkan media-media personal macam handphone, ipod, dsb.

Image from: blogs.guardian.co.uk/music
Rasanya, kondisi semakin tidak ”sehat” ketika tidak ada alternatif lain selain aliran-aliran music yang seperti ini. Dangdut? Campursari? Keroncong? Seperti hilang di telan bumi. Bagaimana dengan lagu anak-anak? Seperinya kok bernasib sama. Padahal dulu, artis-artis macam Sherina, Agnes Monica, Joshua, dkk. brangkat dari situ. Mereka semua adalah “jebolan” penyanyi-penyanyi cilik yang fenomenal.
Dampak Luar Biasa
Disadari atau tidak, kondisi ini sangat membahayakan, terutama bagi generasi penerus bangsa ini. Mau jadi apa bangsa ini jika dari kecil sudah mengenal hal-hal yang (bagi saia beberapa masa yang lalu) tabu. Adik-adik kita yang seusia balita pun, sudah bisa menyanyikan lagu-lagu yang seharusnya hanya ”untuk konsumsi dewasa”. Mudah ditemui kan?
Hedon, mungkin itu basa keren yang bisa dipake untuk menyebut kondisi yang diinginkan. Generasi muda yang cuek dengan keadaan lingkungan, generasi muda yang cukup senang dengan memikirkan diri sendiri. Ingat! Ini bukan karakter kita sebagai orang timur. Kondisi ini pula bukan kondisi yang ideal untuk menciptakan hubungan yang harmonis, vertikal maupun horisontal.
Ya karena memang tidak ada alternatif huburan music/ lagu jenis lain yang beredar di khalayak umum. Mau muter nasyid? Iya kalo di rumah bisa diikuti sama keluarga kita (terutama yang masih anak-anak). Lha kalo mreka liat TV? Denger radio? Pas perjalanan ke sekolah? Pas bermain ke rumah temannya? Semuanya sudah ”terhegemoni”.
Permintaan atau Pemaksaan
Entah, dulu dimulai dari titik mana kondisi semacam ini. Jika kita melihat perjalanan karir teman-teman band ketika ingin masuk major label. Saia yakin, tidak hanya talenta dan karyanya saja yang menjadi kriteria yang mendasari seorang produser mau meng-orbit-kannya. Prospek, itu yang menjadi titik utama. Tapi prospek yang seperi apa? Lha, ini yang saia tidak paham. Sebatas yang saia yakini, tema besar ”cinta terlarang”-lah yang menjadi salah satu dasar. Kok bisa? Ya bisa, karena itulah yang dipandang akan bisa laku di pasaran.
Yang pasti, kondisi seperti ini (dalam teori ekonomi) ”hanya” disebabkan 2 hal, kalau tidak permintaan pasar, berarti ya pemaksaan pasar. Kalau permintaan pasar yang berlaku, berarti ekonomi liberal yang berlaku di industri ini. Kalau yang terjadi pemaksaan pasar, berarti telah terjadi monopoli.
Butuh Alternatif
Beberapa waktu lalu sempat mejadi ”berita besar”, kala ada sebuah grup rege dengan logat Jawa – Tegal ”medok”. Warteg Boys, muncul dan menjadi terkenal dengan single ”Okelah kalo begitu”. Apakah mereka tenar karena ”mojor”? Inget kangen band? Dari kasus ini, kita bisa ambil sebuah kesimpulan, kalau untuk bisa tenar tidak harus berangkat dari major label.
Kita bisa ambil contoh, musisi rap terkenal negeri ini, Saykoji. Dia buat lagu, di-share lewat internet, sudah. Terus bisa terus berkreasi dari mana? Saia yakin, semua yang ada di dunia industri musik paham kalau uang itu tidak hanya datang dari penjualan album. Ya disitulah yang bisa diambil. Justru kalau bikin album akan rawan terjadi pembajakan. Ending-nya ya sama saja boong dengan yang tidak menjual album.
Sebuah asa terhadap teman-teman band indie dan nasyid. Jangan terlalu mengikuti arus yang demikian ”ganas”. Kondisi kita sudah terlalu ”tragis”, butuh perbaikan, bukan pelampiasan atas ke-”tragis”-an ini. Justru akan menjadi lebih ”tragis” lagi jika suatu saat, kita tidak pernah menyadari kalau kita sedang berada ”di jurang”.
Teruslah berkreasi. Majukan bangsa ini dengan musik.
wah iya, sekarang anak2 pintar cinta2an mungkin efek dr anak2 mengkonsumsi lagu2 dewasa.
lha piye? SD rung lulus ae wes pacaran e.. *tepok jidat*
MQ Hidayat´s last blog ..Musik Indonesia; Permintaan Pasar Atau Pemaksaan Pasar?
mereka bukan ditelan bumi.. dikau saja hanya melihat atau mendengar yang menampilkan mereka yang katanya disukai pasar..
dan atas nama rating, semua menjadi begitu banar.. hehe..
kita tunggu saja kiprah amel, cinta kuya, sama umay yang kembali nyanyi lagu anak2