MQ Hidayat: Inih Duniya Saia Bunk!

Gara-gara Banjir, Diriku Jadi WTS

Hari ini (26/02), sebuah perjalanan melelahkan nan menyengsarakan harus saia lalui. Perjalanan dari tanah kelahiran menuju tanah perantauan, Mojokerto – Malang. Selama kurun waktu 8 tahun terakhir, baru kali ini saia harus menghadapi genangan air. Dulu, waktu masih SMA Aliyah, pernah sekali bangku, tempatku menimba ilmu kalap dengan air bah. Setelah itu, Alhamdulillah saia tidak pernah lagi bersinggungan dengan banjir. Namun pagi tadi, saia harus menghadapi air luapan sungai.

Berpamitan dengan orang tua di rumah sekitar jam 6.00 pagi, saia langsung meluncurkan motor dagdigdug tumpangan baru ke arah Kota Mojokerto. Dengan diselimuti kabut tebal, sampai di wilayah Kota Mojokerto 15 menit kemudian. Rute dalam Kota, hampir sama dengan rute biasanya, Jembatan Lespadangan – Letkol Sumarjo – Pasar Besar – Gajah Mada – Pahlawan – Tropodo – Meri – Terminal. Sampai di daerah Tropodo, tanda-tanda adanya banjir sudah nampak. Permukaan air sungai yang tepat berada di samping selatan jalan sudah hampir sejajar dengan jalan raya. Beberapa jalan sudah tergenang dengan air. Namun, perjalanan terus saia lanjutkan.

Mojokerto banjir

sumber gambar: detik Surabaya

Genangan air lebih besar terlihat setelah berada di atas jembatan Tropodo. Beberapa warga berkumpul di atas jembatan tersebut. Dugaan saia, ini hanya genangan air biasa yang menutupi jalan tidak telalu tinggi dan area jalan yang tergenang pun tidak terlalu banyak, sehingga daia memutuskan diri untuk terus menerobos genangan air tersbut.

Belum sampai genangan pertama saia lalui, motor grand ’96 yang saia tumpangi sudah mogok. Doh, akhirnya saia harus rela memasukkan kaki ke air dan menuntun motor ke daerah yang tidak tergenang air. Sekitar 50 meter, saia memarkir motor sembari mengeringkan bagian busi dan knalpot motor. Hampir setengah jam berada di depan salah satu mini mart. Motorpun saia kendarai lagi dan harus menerobos genangan ke-dua yang tak kalah dalamnya.

Lagi-lagi naas. Di tengah genangan ke-dua ini, tanda-tanda motor macet kembali muncul. Saia pun memberanikan diri utuk masuk ke halaman rumah salah satu warga yang tidak tegenang air. Di sinilah, saia “istirahat” agak lama karena si tuan rumah begitu ramah. Bahkan saia disangka sebagai seorang wartawan.

Ya, saia adalah WTS

Pertanyaan bapak berusia 40-an yang merupakan pemilik rumah yang saia singgahi memang cukup beralasan, ketika melihat “penampakan” saia yang apa adanya dan berkali-kali meng-”interview”-nya. Dengan jaket bertulis “mq toserblog” di bagian dada, lengan berlogo “modifikasi” tani maju, dan tentengan tas “berisi” bekal hidup diperantauan. Beberapa pertanyaan yang saia lontarkan juga hanya bertujuan untuk memecah kebuntuan diantara kami.

Lalu apa hubungannya dengan WTS? Itu merupakan istilah yang saia dapat dari seorang teman yang berprofesi jurnalis, Fajar Riadi. Dalam salah satu tulisannya di blog lamanya, dia pernah menyebut diri dengan istilah ini. WTS = Wartawan Tanpa Surat kabar. Yah, sebagai seorang blogger, profesi ini tentunya akan melekat dengan sendirinya. Dan tentunya, temen-temen blogger sudah paham tentang ini.

Namun sanagat di sayangkan. Saia tidak bisa merekam momen tersebut dalam bentuk digital. Itulah salah satu kekurangan saia sebagai seorang WTS, saia tidak memiliki camera. Yah, maklum lah, saia hanya seorang blogger kere yang matre :D . Update informasi lewat microblogging pun harus lewat, karena batre HP sudah tidak memungkinkan.

Dari beberapa percakapan, saia dapat informasi bahwa peristiwa seperti ini sudah rutin terjadi 4 tahun terakhri. Genangan air di Wilayah Kelurahan Meri – Kec. Magersari ini merupakan luapan dari Sungai Sadar. Tanggul tidak mampu lagi menahan debit air yang ada. Hujan sebenarnya sudah terjadi di malam hari, namun air baru meluap saat waktu Shubuh.

Setelah setengah jam lebih, saiapun berpamitan bersamaan dengan ucapan terima kasih. Dengan berbekal informasi kondisi jalan selanjutnya, saia dengan “agak tenang” melanjutkan perjalanan. Di genangan selanjutnya, memang tinggi air tidak separah 2 genangan sebelumnya. 2 genangan lain, bisa saia lalui dengan tanpa halangan, hingga akhirnya bisa keluar dari bencana tersebut.

Takk terasa, waktu lebih dari 1 jam saia habiskan di daerah tersebut. Di daerah terminal, waktu sudah menunjukkan pukul 07.50 WIB. Di perjalanan Mojokerto – Mojosari, saia hanya berani memacu motor dengan kecepatann maksimal 50 km/h. Motor belum terlalu normal, apalagi rem belakang masih basah dan belum bisa berfungsi dengan normal.

Puji syukur, saia bisa sampai Malang dengan selamat. Tiba di rumah kontrakan pukul 09.30-an.

Sugguh, perjalanan yang sangat “berkesan” dan melelahkan. Banjir, kini serasa menjadi sebuah bencana rutin di Kota Mojokerto dan beberapa daerah pinggiran kota. Entah kenapa terjadi, yang jelas ini akibat dari ulah kita sendiri. Dan seingat saia, bencana ini pun baru muncul di awal tahun 2000-an. Mudah2an ini menjadi pelajaran kita semua untuk bisa menjaga keseimbangan lingkungan.

Baca berita tentang berita ini di detik Surabaya

CERITA WTS

3 Comments

(Required)
(Required, will not be published)

CommentLuv Enabled
← Home   Top ↑