MQ Hidayat: Inih Duniya Saia Bunk!

Ke-tidak Sesuai-an Apresiasi; Resiko Menjadi Freelancer

Menentukan pilihan hidup untuk menjadi seorang freelancer bukanlah hal yang mudah, walaupun juga tidak sulit. Segala pilihan hidup ini, sudah pasti beresiko. Tinggal kesiapan kita untuk menghadapi resiko itulah yang akan membawa kita pada kesuksesan hidup.

Menjadi freelancer pun banyak pilihan yang bisa kita ambil. Di sektor mana, kita akan melangkah. Bergelut dengan dunia online, bisa. Menjadi fotografer juga bisa. Penulis? Tentu bisa. Desainer, kenapa tidak? Yang pasti, terjun di dunia seperti ini biasanya diawalai dari sebuah hoby. Dan itulah yang menjadikan banyak freelancer lebih enjoy dalam menjalani profesinya.

Tinggal kesiapan kita untuk menghadapi resiko itulah yang akan membawa kita pada kesuksesan hidup

Sebenarnya saia ingin menulis tentang ke-tidak nyaman-an yang saia hadapi beberapa waktu terakhir ini. Ketika saia mendapat kepercayaan dari sebuah lembaga yang sebenarnya cukup ternama, namun ternyata harapan saia tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi apalah guna, jika saia hanya menjustifikasi peristiwa tersebut tanpa ada ujung yang jelas. So, mending saia berbagi hasil intervew singkat saia dengan salah seorang fotografer.

Si Boby, Sang Fotografer

Berbicara tentang sisi menarik freelancer, sepertinya sudah biasa. Saia yakin, suka akan lebih sering ditemukan dari pada duka. Namun, duka seperti apa yang sering dihadapi? Sebut saja Boby, seorang fotografer lepas yang tak punya studio sendiri. Dia adalah seorang yang sering saia temui di salah satu warung yang ada di sudut Kota Malang.

photographer

image from: flickr.com

Berawal dari hoby baru saya, belajar fotografi, kini kita sering ngobrol (saat ketemu, tentunya). Namun lama kelamaan, tidak hanya tentang itu saja yang kita diskusikan. Beberapa waktu lalu, dengan tekad bulat, saia memberanikan diri untuk mengorek lebih jauh tentang profesinya.

Apresiasi hobi

Kegeleisahan saia akhir-akhir ini tentang ke-tidak beres-an project yang saia tangani di atas, berangsur-angsur pudar. Sepertinya, dia juga sudah biasa menemukan hal-hal yang semacam saia temui beberapa waktu lalu (bahkan sampai sekarang belum juga beres). Namun, berbeda denganku. Dari sikap, sepertinya dia lebih tegas dari pada saia yang selalu minder dengan hoby (yang bagi sebagian orang disebut keahlian).

Sebuah spirit baru saia temukan dari seorang yang sudah memulai menjadi freelancer sejak saia baru masuk kuliah.

Ke-tidak seimbang-an antara apa yang sudah kita lakukan dengan imbalan yang kita dapat itu sudah biasa. Namun pernahkah kita menghitung, berapa besar hoby kita itu dihargai orang? bukankah itu berawal dari kesukaan kita?

Kira-kira seperti itulah ungkapan dia yang bisa membuatku agak tenang. Beberapa cara peneguran dia sampaikan ke saia, dan tentunya ini sebuah pelajaran berharga bagi seorang newbie macam saia.

Yah, salah satu pelajaran penting dari sebuah perjalanan hidup di kala sedang dituntut untuk segera menyelesaikan study-ku dapat. Tidak selamanya, apresiasi dari karya kita dihargai dengan layak oleh seseorang. So, bersiyaplah menghadapi resiko ini, wahai kawan-kawan freelancer.

Teruslah berkarya. Yakinlah, apa yang kita hasilkan adalah yang terbaik. Sukses selalu buat kita semua.


5 Comments

(Required)
(Required, will not be published)

CommentLuv Enabled
← Home   Top ↑